Personal

Hujan dan Menunggu

This slideshow requires JavaScript.

 

Hujan kini diidentikan dengan rasa galau…

rasa rindu dapat membuncah ketika sedang menunggu dan dalam kesendirian.

Ah, itu terlalu melankolis…

Rintikan hujan tak melulu tentang galau dan rindu, tapi tentang kamu dan mereka.

Sore itu di bulan Oktober, menunggu seorang teman yang akan menjemput ku di stasiun terkusut se-Tangerang Selatan dengan tujuan kami ingin berkunjung ke rumah teman. Hujan begitu konsisten dari siang hari, teringat ada payung yang sudah ku siapkan sembari berjalan menuju ke depan stasiun. Ah, hujan tak kunjung reda.. mendapat pesan singkat dari teman ku “tunggu sebentar ya, masih hujan dan siap-siap dulu” ujarnya.  Menepi sejenak, mencari tempat berteduh sembari menunggu, ku dapati ada sebuah warung pinggir jalan dan meminta izin pada pemilik warung untuk berteduh.

Duduk layaknya orang yang sedang merenungkan nasip hidupnya, entah apa yang ada di pikiran ku saat itu, memikirkan dia… Yaelah masih saja, masih adakah ruang untuknya? Haha masa galau itu sudah ku lalui walaupun masih ada sedikit rasa, ah sudah ku malah curhat.

Ya, cukup deras rintikan hujan, yang ku sadari per 15 menit dibuka dan tutupnya palang kereta, adanya itu pandangan ku tak teralihkan dengan apapun, yang ku pandangi hanya orang-orang yang menanti lewatnya kereta dan palang terbuka kembali. Rasanya berat untuk berpindah tempat, akhirnya ku coba untuk mengeluarkan kamera yang ada di tas dan mulai mendokumentasikan apa yang  dilihat dari tempat ku duduk. Cukup dengan menoleh ke kanan, kiri dan pandangan lurus ke depan sembari berbincang ringan dengan seorang penjual gorengan.

Aku mencoba memvisualisasikan keresahan ku di sore itu. Keresahan ketika menunggu saat hujan turun dan tak bisa ku hindari bahkan memberhentikannya agar tidak membasahi kepala, baju, tas dan lainnya. Karena hujan adalah berkah dari-Nya maka tak patut kita mengeluhkan dan menolak kehadirannya, seperti mereka yang tetap menerjang hujan meski ada yang dikorbankan.

Terima kasih hujan sudah hadir di hari-hari ku, kamu dan mereka.

 

4 Oktober, 2016.